About Seminar

Bahasa

Seni Budaya adalah media untuk mempersatukan berbagai emosi dan ekspresi menjadi sebuah keindahan yang dapat menyenangkan setiap penikmatnya. Keindahan adalah jalan untuk mendekatkan diri dengan alam sehingga dapat menjadi pemersatu berbagai perbedaan yang menjadi dasar dinamika masyarakat selama ini. Seminar ini dilaksanakan untuk menjembatani adanya perbedaan tersebut, sehingga penting dilakukan upaya untuk  meningkatkan “Kesadaran Budaya” kepada para penganut kebudayaan tersebut. Berkembangnya konsep individualitas melahirkan berbagai konsep yang bermuara pada hegemoni konsep-konnsep dalam struktur sosial yang parsial. Cara berfikir ini menumbuhkan berbagai pikiran intoleran yang merebak hampir di seluruh dunia. Anggapan terbaik dan terutama pada satu konsep adalah ‘penistaan’ kepada konsep lainnya.

Seminar Warisan Nusantara diawali di Universitas Malaysia Sabah (UMS) pada tahun 2009 dalam penyelenggaraan seminar yang terkait dengan berbagai nilai kenusantaraan sebagai kesadaran budaya bersama untuk dikembangkan pada masa yang akan datang. Pada saat itu atas inisiasi dari Prof. Dr.Tjetjep Rohendi R. menyarankan agar seminar internasional ini dapat dilangsungkan di beberapa negara Asia Tenggara sebagai basis kenusantaraan.

Nusantara adalah wilayah yang terbentang luas hampir di seluruh Asia Tenggara pada masa lalu. Berbagai peninggalan ide gagasan, tata nilai, artefak dan pengetahuan tentang keteraturan, kebaikan dan keindahan masih terpendam dalam kawasan ini yang memerlukan penelitian serius untuk pengembangan pengetahuan di masa yang akan datang. Bukan hanya semata-mata pengetahuan nyata saja, namun filosofi dan tata nilai tentang seni dan keindahan masih terbentang luas sebagai warisan leluhur. Oleh sebab itu, berbagai temuan peneliti dari Asia Tenggara dan sekitarnya memerlukan wadah diskusi dan pengembangan tentang berbagai hal yang menyangkut pengembangan ilmu pengetahuan yang tersebar luas di seluruh wilayah Nusantara ini.

Intoleransi adalah masalah yang sedang menyeruak ke permukaan dunia dan harus mendapatkan respon secara bersamaan untuk mencari solusi dan cara penanggulangannya. Nilai-nilai Nusantara telah terbukti dapat menjadi perekat antar kerajaan, antar pulau pada masa lalu, sehingga penggalian secara intens terhadap nilai-nilai ini perlu dilakukan. Ide, gagasan, tindakan dan karya pada masa itu berjalan seirama di seluruh Asia Tenggara. Nusantara memiliki karya dan bahkan maha karya seperti Borobudur, Angkor Wat, Prambanan dan lain-lain, dapat menjadi inspirasi pengembangan seni dan budaya di masa modern ini.

Menggali berbagai nilai kearifan lokal (indigenous) dalam bidang seni dan budaya Nusantara serta menumbuhkan kesadaran budaya di antara negara Asia Tenggara dan sekitarnya. Apresiasi karya diantara peneliti dan mempererat rasa memiliki untuk harmonisasi hidup bersama di wilayah Asia Tenggara dan Sekitarnya..

Melakukan kinerja dengan para ahli di lingkungan Asia Tenggara yang bergerak dalam bidang seni, tari, karawitan/ethnomusikologi, pedalangan, musik, film, kriya, desain, arsitektur dan bidang budaya lainnya, khususnya yang menyangkut keindahan dan material baru.

English

Cultural arts are a media to unite various emotions and expressions into a beauty that can please every audience. The beauty as the way to get closer to nature so that it can unify differences that become the basis of community dynamics over the years. This seminar is held to bridge those differences, so it’s important to do some efforts to improve “Cultural Awareness” to the followers of the particular culture. The development of the individuality concept gave birth to a variety of concepts that led to the hegemony concepts in partial social structures. This way of thinking fostered intolerant thoughts which spread almost all over the world. Best and foremost assumption on one concept is blasphemy to other concepts.

Nusantara Heritage Seminar begins at Universitas Malaysia Sabah (UMS) in 2009 within the seminar organized related to various Nusantara values as a shared cultural awareness to be developed in the future. At that time the initiative of Prof. Dr.Tjetjep Rohendi R. suggested that this international seminar can be conducted in several Southeast Asia countries as a foundation Nusantara.

Nusantara is a region that stretched nearly across Southeast Asia in the past. Various legacy of ideas, values, artifacts and knowledge of regularity, goodness and beauty are still buried in this area that requires serious researches for the development of knowledge in the future. Not merely real knowledge, but the philosophy and values of art and beauty is still stretched vastly as heritage. Therefore, the findings of researchers from Southeast Asia and beyond requires a discussion forum and the development of various matters relating to the development of science are widespread throughout this archipelago (Nusantara).

The values of Nusantara has been proven to bind between kingdoms, islands in the past, so exploration against these values need to be done intensively. Ideas, concepts, actions, and works of that time walking in rhythm throughout Southeast Asia without wars. Nusantara owns work and even a masterpiece such as Borobudur, Angkor Wat, Prambanan, and others, can be a development inspiration of art culture in modern times.

Exploring various local values (indigenous values) in the field of arts and cultural Nusantara along with fostering cultural awareness among countries of Southeast Asia and the surrounding areas. Work appreciation between researchers and strengthen the sense of belonging for harmonization of living together in the region of Southeast Asia and the surrounding areas.

Conducting experiments with experts in Southeast Asia region that engages in art, dance, ethnomusicology (karawitan), Balinese theater (pedalangan), music, movies, crafts, design, architecture and other cultural fields, especially regarding beauty and new material.